KARTINI, ANTARA SEREMONI DAN ESENSI

21 April 2008, seabad lebih dari kelahiran Kartini. Momen yang sangat berarti tentunya bagi bangsa Indonesia. Kartini, sosok perempuan lokal yang memperjuangkan hak-hak kaumnya. Kelahiran Kartini cerminan dari bangkitnya perempuan Indonesia. Oleh karena itu, 21 April menjadi hari ‘keramat’ –lazim dikenal dengan Hari Kartini- untuk mengenang jasa Kartini. Kegiatan baik taraf lokal maupun nasional, ilmiah ataupun non ilmiah digelar.
Namun, sejauh mana hal itu menjadi urgensi? Dalam pelbagai peringatan yang diselenggarakan, seringkali Kartini dihadirkan sebagai figur fonumenal mengingat namanya yang tersebut sebagai Pahlawan Nasional. Kartini disajikan sebagai teladan resmi bukan karena dirinya sendiri melainkan karena pandangan orang lain mengenai dirinya.

Akibatnya Kartini muncul sebagai tokoh mitos. Dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, Pramudya Ananta T menuturkan: “Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya.”

Sementara kita berulangkali memperingati Hari Kartini, berulangkali pula ketidakadilan gender terjadi. Apa yang menjadi kasus di Brebes bulan Maret –penjualan gadis oleh orang tua korban- kiranya menjadi perenungan yang tak terpisahkan dari seremonial Kartini. Trafficking –jual beli perempuan- masih terjadi di era modern ini. Di samping kasus kekerasan TKW yang juga tidak pernah ada habisnya. Sederetan lainnya pun ikut menyusul seperti kekerasan dalam rumah tangga, marjinalisasi buruh perempuan dan lain sebagainya. Apakah ini artinya tereduksinya perjuangan Kartini secara besar-besaran? Kemanakah mahasiswa yang seharusnya menjadi garda terdepan?

Napak tilas Kartini sudah seharusnya ditilik kembali sehingga perjuangan Kartini menjadi tidak sia-sia. Sepatutnya perjuangannya diteruskan oleh generasi muda bangsa. Terlahir dalam keluarga yang menjunjung adat budaya Jawa, Kartini dilarang tampil di muka umum. Tirani budaya yang feodalistik dan hegemonik melarang perempuan yang belum kawin melakukan demikian. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Kartini untuk mewujudkan citanya. Negara yang adil dan tidak diskriminatif menjadi harapan besarnya. Laki-laki dan perempuan dapat memperoleh kesetaraan baik dalam pengambil ataupun pelaksana kebijakan. Di jamannya yang kental patriarkhi, perempuan menjadi masyarakat kelas kedua –subordinasi- setelah laki-laki. Perempuan tidak lepas dari stereotype 3 M : macak –dandan-, manak –melahirkan- dan mangan –makan/ urusan di dapur-. Tidak hanya perempuan Bumiputera, perempuan kraton pun sarat dengan pelabelan tersebut. Inilah yang menjadi kekhawatiran Kartini akan tenggelamnya potensi perempuan.

Hanyakah kemajuan kaum hawa yang disuarakan oleh Kartini? Oh, ternyata tidak. Kartini juga menyuarakan akan kemajuan bangsa. Kartini mengangankan adanya pendidikan bagi setiap lapis masyarakat, miskin atau kaya semua dapat merasakannya. Dalam suratnya tertanggal 31 Januari 1901 Kartini menulis: “Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?.” Cita- cita besar Kartini bukan hanya omong kosong. Di balik ‘penjara’ yang membelenggu Kartini mengutarakan gagasan dan harapannya melalui surat kepada teman-temannya. Kartini juga mengaktualisasikan perjuangannya antara lain dengan memediasi antara pesanan Belanda kepada pengrajin perak dan kayu. Kartini juga berupaya agar pengrajin dapat meningkatkan mutu desainnya melalui semacam training dan bantuan mereka yang lebih ahli.

Sadar akan perjuangannya yang tumpul karena belenggu “penjara” terhadap perempuan yang belum kawin, Kartini muda menikah dengan Bupati Rembang RTAA Djojohadiningrat. Dari sini Kartini memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan citanya. Berkat kegigihannya, Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.

Jika dalam jamannya yang serba membelenggu, Kartini sanggup mengawali kemajuan perempuan dan kaum marjinal. Apa yang telah kita lakukan sampai detik ini? Celotehan kaum Adam: “Jika kamu bukan perempuan maka saya akan…” menjadi kalimat klasik yang menggugurkan kemapanan, kebebasan, idependensi dan bahkan kemajuan perempuan. Faktanya pun sangat sedikit perempuan –bahkan dengan kesempatan dan privelege yang sama (ningrat) dengan Kartini- berani mengambil langkah seperti dirinya: memaknai hidup, betapapun kerasnya, untuk selalu berjuang.
(najma_004@yahoo.co.id)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: