PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Saat negeri ini sudah hampir menginjak angka 63 tahun kemerdekaannya dan peringatan hari kebangkitan nasional telah mencapai 100 tahun tentu sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat indonesia memikirkan kembali bagaimana caranya membawa negeri ini menuju peradapan yang lebih maju dan kembali ke dalam kepribadian kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila serta gotong-royong dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional kami mengajak saudara-saudara sekalian untuk ikut serta dalam merefleksikan sedikit apa makna, tujuan, dan juga semangat yang terbentuk saat pemuda-pemudi indonesia dimasa itu dengan semangatnya berjuang bersama untuk terbentuknya NKRI ditengah tekanan dan hadangan para penjajah. Kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi penggerak kebangkitan bangsa oleh budi oetomo, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908. Hari tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kala itu bangkitlah suatu kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air. Boedi Oetomo saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang berpendidikan dan peduli terhadap nasib bangsa, yang antara lain diprakarsai oleh Dr.Soetomo, Dr.Wahidin Soedirohoesodo, Dr.Goenawan dan Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).

Pahit getirnya perjuangan bangsa Indonesia jauh sebelum 1908 mencatat begitu banyak kenangan berharga dan begitu banyak kenangan yang mengharukan. Awal kebangkitan Nasional bukanlah terjadi dengan sendirinya tetapi berawal dari rasa keprihatinan terhadap kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Saat itu Belanda menelantarkan pendidikan Bangsa Indonesia, rakyat dibiarkan bodoh, melarat dan menderita. Kondisi tersebut ternyata tidaklah lama. Orang-orang berpendidikan mulai unjuk amal. Mereka mulai bergerak menyuarakan hak-hak bangsa. Jumlah mereka pun semakin bertambah. Banyaknya orang pintar dan terpelajar di Indonesia kala itu merupakan salah satu factor munculnya kebangkitan nasioanl. Orang-orang terpelajarlah yang berperan sebagai pionir bagi masyarakat lainnya untuk sadar dan bersatu menuju kesatuan bangsa demi menghapuskan penjajahan Belanda. Saat itu orang-orang terpelajar mendirikan organisasi di setiap daerah. Jong Ambon (1909), Jong Java dan Jong Celebes (1917), Jong Sumatera dan Jong Minahasa (1918). Pada tahun 1911 juga berdiri organisasi Sarikat Islam, 1912 Muhammadiyah, 1926 Nahdlatul Ulama, dan kemudian pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia. Perjuangan yang panjang itu, akhirnya mencapai puncaknya pada kemerdekaan bangsa, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Jika kita menghubungkan antara sejarah yang ada dengan kenyataan yang terjadi saat ini dimana pada sejarah telah dijelaskan bahwa kebangkitan nasional terbentuk dari perkumpulan kaum muda yang berpendidikan dan peduli terhadap nasib bangsa tetapi realita yang ada dewasa ini perkumpulan kaum muda yang ada sudah banyak ditinggalkan oleh pemuda-pemudi yang berpendidikan. Hal ini dikarenakan banyak sekali pemuda-pemudi dari bangsa ini yang beranggapan bahwa dengan kuliah/sekolah saja mereka telah dapat mengembangkan diri tanpa harus berorganisasi padahal tidak sepenuhnya anggapan itu benar karena dalam sebuah kampus/sekolah biasanya kita hanya akan mendapatkan ilmu-ilmu yang telah dibuat berdasarkan atas kurikulum yang digunakan pada saat itu, selain daripada itu dewasa ini generasi pejuang masa depan bangsa ini telah banyak yang kurang bisa memfilterisasi beberapa budaya asing yang masuk ke negeri ini hal ini mengakibatkan banyak sekali generasi pejuang bangsa kita sekarang yang terjebak pola gaya hidup yang berfoya-foya, liberalisme, hegonisme dan terkadang lebih mengikuti budaya asing daripada melestaikan budayanya sendiri. Dalam rangka refleksi hari kebangkitan nasional kami mengajak generasi muda pejuang bangsa untuk kembali berorganisasi agar dapat mengembangkan ilmu pengetahuan kita dan juga kepribadian kita dalam mengatasi berbagai masalah yang ada dalam bermasyarakat dan ikut berperan serta untuk memikirkan gimana nasib bangsa ini ke depan melalui berbagai tindakan yang lebih nyata agar arah pergerakan bangsa ini menjadi lebih baik ke depannya. Sebagai contoh dalam berorganisasi kita akan bertemu dengan banyak orang yang mempunyai pemikiran tujuan sama akan tetapi mereka mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan sehingga disini kita akan menemui suatu masalah bagaimana agar tujuan itu tercapai akantetapi langkah yang kita ambil bisa diterima semuanya dari sinilah akan terbentuk yang namanya kesadaran kolektif. Jika ditarik kepada realitas sekarang, semangat tersebut sangat diperlukan ditengah semakin rapuhnya kesadaran kolektif itu. Akrobatik politik para elite, terutama pada pasca pemilu legislatif kemarin, sangat kental mengutamakan kepentingan golongannya masing-masing. setelah terdapat kesadaran kolektif, akhirnya muncul nasionalisme yang terpupuk terus-menerus, hingga mampu bangkit dari keterpurukan. Mengenai hal itu, realitas sekarang juga teramat memprihatinkan. Banyak elite politik bicara nasionalisme tanpa menyadari bahwa dirinya berada pada posisi penghancuran sendi-sendi nasional bangsa ini. Ada partai penguasa yang mengaku mengusung ideologi nasionalis, namun secara sadar telah mengobral aset strategis negara.

Seharusnya, nasionalisme tak hanya diwujudkan dengan jargon-jargon semata, apalagi hanya digunakan sebagai manifesto dengan bahasa genit ala partai politik. Rasa nasionalisme ditunjukkan dengan semangat kemandirian berbangsa, serta memiliki harga diri sebagai sebuah bangsa. Merusak sendi-sendi kebangsaan juga bisa dikategorikan sebagai gerakan antinasionalisme.
Misalnya, Banyak dari aparat-aparat pemerintah yang ingin menjual saham-saham peruhasaan yang ada di indonesia. Studi kasus dahulu provider indosat dan telkomsel merupakan kebanggaan bangsa indonesia akan tetapi sekarang saham keduanya beserta satelit palapa indonesia telah berpindah tangan pada pihak asing dalam satu kepemimpinan pemerintahan yang mengatasnamakan rakyat. Setelah pemerintahan itu berganti apa yang tejadi bukannya sadar bahwa mereka telah menjual bangsa ini dengan murahnya malah semakin menjadi-jadi dengan mau menjual salah satu penerbangan nasional yang menjadi kebanggaan bangsa ini. Berapa banyak lagi harga diri bangsa ini harus tergadaikan hanya untuk kepentingan ekonomi yang mengatasnamakan rakyat.

Pada akhir tulisan ini kami mengajak saudara-saudari terutama para pemuda-pemudi sekalian dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional untuk memulai lebih memikirkan masa depan bangsa ini dengan cara mengembangkan kepekaan sosial, kepribadian diri, dan tanggung jawab tehadap bangsa melalui suatu organisasi sehingga terbentuk kesadaran kolektifitas hingga semangat nasionalisme berdasarkan pada kenyataan yang ada dalam masyarakat indonesia dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila serta gotong-royong.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: