HARLAH PMII

48 TAHUN PMII DALAM GERAKAN MAHASISWA*)

Genap sudah 48 tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berdiri. Usia yang bisa dibilang tua namun tidak seharusnya menua dalam kancah pergerakan mahasiswa. Sebuah usia yang cukup matang sebagai salah satu dinamisator kehidupan bangsa sejak tahun 1960. Keterlibatan PMII pada tahun 1966 sebagai motor Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dengan duduknya sahabat Zamroni sebagai ketua merupakan bukti konkret perjuangan PMII sebagai elemen gerak mahasiswa. Dari situlah muncul gerakan mahasiwa tahun 1974/1975 yang akhirnya melahirkan NKK/BKK, gerakan Malari 1978 dan gerakan reformasi 1998. Kiprah para alumni PMII telah begitu banyak mewarnai panggung sejarah bangsa Indonesia baik di jabatan-jabatan profesional maupun jabatan-jabatan publik –eksekutif, legislatif atau yudikatif-.

Di atas kebesaran dan keberhasilan pencapaian alumni-alumni PMII di jamannya, sudah seharusnya lah menjadi naluri kita untuk lebih ’waspada’. Kewaspadaan untuk tidak terninabobokan oleh jejaring alumni maupun kebanggaan sesaat akan nama besar alumni. Bukankah kebanggaan seharusnyalah pada prestasi yang kita raih? Bukan pada prestasi orang lain?
Menilik lebih dalam PMII akan berujung pada sebuah pertanyaan besar, Apa yang harus dilakukan oleh PMII khususnya Komisariat Diponegoro saat ini dan masa mendatang? Meskipun ada beda setting situasi dan waktu ketika PMII lahir pada 17 April 1960 dan saat ini. Namun, selayaknya semangat ber-PMII tetap bergelora pada kader muda seperti halnya para alumni di era sahabat Zamroni. Karena toh peran, fungsi dan orientasinya seharusnya tetap dipegang.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa sudut pandang yang perlu kita lihat. Pertama, sebagai Perguruan Tinggi Negeri terkemuka dari lima PTN lainnya, UNDIP memiliki SDM yang besar dan berkualitas. UNDIP merupakan ajang pertarungan dan perebutan ideologi-ideologi nasional. Ideologi-ideologi ini tumbuh subur di kalangan mahasiswa dengan tingkat heterogenitas yang begitu besar. Taruhlah liberal, sosial demokrat, Islam dan lain sebagainya. Pertarungan ideologi-ideologi ini akan terus berlanjut mengingat potensi SDM yang bisa diperhitungkan. Lantas, bagaimana kesiapan ideologi yang diusung PMII dalam pertarungan kampus umum? Masih perlu dikaji dan diuji.

Sisi lain yang selalu menjadi bagian integral kehidupan kampus adalah Islam. Tidak hanya di kampus agamis –STAIN, IAIN dan UIN- ternyata Islam juga menampakkan warnanya di kampus umum. Hal ini mengingat prosentase mahasiswa sebagian besar beragama Islam. Berbicara Islam berarti kita harus memahami setidaknya ada tiga kutub pemahaman Islam. Pertama adalah Islam fundamentalistik. Islam ini dalam menyikapi kondisi penyebaran Islam yang berbeda dengan geografis asalnya yakni Arab, enggan dan susah beradaptasi –terlalu tekstual terhadap Sumber Hukum Islam-. Dalam realitasnya Islam fundamentalistik tampil dengan wajah ke-Arab-Arab-an. Berikutnya adalah Islam moderat, lebih bisa beradaptasi dengan kondisi geografis penyebaran Islam. Melengkapi pandangan terakhir adalah Islam liberal. Karena berpijak pada akal, makna transendesi –hubungan vertikal manusia dengan Tuhan- cenderung tereduksi oleh Islam ini.

Dalam ketiga besar kutub itu, PMII tetap berpijak pada kesepakatan nasional tentang NKRI dengan mazhab dan manhaj al fikr gerakan Islam Indonesia yaitu Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja). Meminjam istilah Said Agil Syiraidj, ”Aswaja adalah manhaj al fikr al diny al syml ’ala syu’un al hayat wa mu’tadlayatiha al khaim ala asas al tawashuh wal tawazzun wal al i’tidal wa al tasamuh yakni metode berfikir keagamaan yang mencakup segala aspek kehidupan dan berdiri di atas prinsip keseimbangan, balancing, jalan tengah dan netral dalam akidah penengah dalam permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan serta keadilan dan toleransi dalam politik”.

Aswaja disini bukan berarti dengan mengkotakkan kelompok yang sesat (firqah dlalalah) dan kelompok yang paling benar (firqah najiah). Dengan melihat latar belakang sejarah, aswaja lebih ditekankan pada inti tauhid. Berarti pula melihat sejarah Islam Indonesia adalah menegaskan kembali bahwa Islam Indonesia masuk melalui jalur-jalur budaya lokal. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari peran Wali Songo. Melalui jalur budaya Wali Songo menegaskan bahwa dalam Islam tersedia ruang akulturasi, akomodasi dan toleransi terhadap adat dan budaya yang mendahuluinya. Ruang itu memungkinkan tidak serta mertanya dicabut adat dan budaya lokal. Namun, tetap dipertahankan dengan mengganti substansinya dengan ajaran Islam. Inilah bentuk penghargaan dan penghormatan yang agung oleh Islam.

Dengan melihat fakta dan realita di atas PMII khususnya Komisariat Diponegoro harus mendasarkan gerakannya pada watak moderat dan nuansa Islam Indonesia. Tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan tawasuth (pertengahan) menjadi tiga prinsip utama dalam konsep keagamaan yang tidak terpisah dari denyut PMII. Pun kaidah Dar’u Al Mafasid Muqaddamun Ala Jalbi Al Mashalikh (mengutamakan untuk menghindari sebuah kerusakan daripada untuk mencapai kemaslahatan) menjadi komitmen PMII dalam mengarungi pergerakan kampus umum yang semakin dinamis.
*[Ketum Komisariat Diponegoro]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: