kemerdekaan dalam kepribadian indonesia

Kemerdekaan kata itulah yang sering kita dengar setiap memasuki bulan agustus karena pada bulan itulah bangsa ini mencapai kemerdekaannya melawan penjajahan fisik yang dilakukan oleh bangsa lain selama kurang lebih setengah abad lamanya akantetapi cobalah kita lupakan sejenak tentang apa yang telah terjadi di masa lalu sambil kita coba untuk menatap secara bersama-sama bagaimana kita sebagai warga negara yang baik untuk bergotong royong membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada pada bangsa ini terutama dalam hal merubah kepribadian bangsa ini dari pribadi bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.

Dalam perkembangan setelah kemerdekaan bangsa ini telah berkali-kali berganti pemimpin dan juga telah mencapai perkembangan yang sangat pesat di berbagai bidang akantetapi jika kita melihat lebih mendalam perkembangan yang ada saat ini sangatlah jauh pada apa yang dicita-citakan oleh para pejuang bangsa ini sebelum kemerdekaan terutama pada kehidupan politik dan perkembangan moral-etika agama.

Dalam kehidupan politik bangsa ini seakan-akan ibarat se-ekor macan yang kehilangan taringnya karena sekalipun kita masih mempunyai sebuah kekuatan di dunia politik internasional tapi kita masih kurang mampu bahkan cenderung hanya mengikuti saja kebijakan-kebijakan yang ada dan itu tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa ini yang sangat menginginkan bangsa ini mempunyai ideologi yang bisa menjadi roh dalam perkembangan peradapan atau dalam arti lain dapat konsisten dan berani mengambil resiko dalam membuat sebuah keputusan yang berguna untuk masa depan bangsa ini sekalipun harus bertentangan dengan kebijakan negara-negara lain di dunia hal ini sesuai dengan yang tertuang pada landasan ideologi politik kita yang bebas-aktif serta yang tertuang pada pidato presiden RI yang pertama BERDIKARI (berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka.Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling menguntungkan. Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: “Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan).

Dalam perkembangan moral-etika agama, bangsa ini seperti kehilangan roh dalam setiap pergerakan kehidupan bernegara dimana seharusnya moral-etika selalu ditempatkan dalam setiap perilaku dan tindakan yang akan dilakukan seperti yang tergambar dalam pancasila dan UUD 45. Kita lihat saja saat ini telah berapa banyak sikap maupun tindakan dari diri kita sendiri yang telah menyalahi moral-etika dalam berbangsa dan bernegara, sebagai gambaran berapa banyak para wakil rakyat yang diberitakan telah terjerat kasus korupsi padahal jika kita tinjau dari hasil gaji bersih para wakil rakyat itu sebenarnya mereka masih cukup untuk menghidupi keluarga mereka bahkan jika mereka sanggup menghargai apa yang telah diberikan oleh pemilik alam semesta dan segala isinya mereka masih mampu memberikan sisa dari hasil gaji yang telah mereka peroleh kepada fakir-miskin yang semakin hari semakin bertambah di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil atau dilain pihak kita tinjau bagaimana sikap generasi muda yang seharusnya sebagai tonggak awal agar mampu menjadikan kehidupan negara ini lebih maju malah terjebak pada arus kekuasaan, harta dan pola-pola pemikiran yang lebih menekankan pada bagaimana harus menyelamatkan diri sendiri dari berbagai tekanan kehidupan globalisasi dengan cara yang mengorbankan moral-etika agama.

Dalam konteks sebagai generasi muda demi mewujudkan cita-cita yang ingin dicapai oleh para pejuang sebelum kemerdekaan terutama dalam kehidupan politik dan perkembangan moral-etika bangsa agar menjadi lebih baik maka perlu dilakukan usaha pengembalian kehidupan politik dalam moral-etika dalam tujuannya sebagai usaha memperjuangkan kesejahteraan umum, memajukan masyarakat dan melaksanakan keadilan, sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai perlu penegasan kembali fungsi kritis moral-etika agama dalam mengevaluasi posisi manusia dalam sistem politik, mengaplikasikan moralitas politik sekaligus mendudukkan peran moral-etika agama secara fungsional dalam melaksanakan fungsi kritis mengendalikan kehidupan politik menuju kehidupan politik yang bermoral dan manusiawi (Said Tuheley (ed.), 2003). Jika upaya tersebut berhasil dilakukan maka operasionalisasi agama sebagai sistem keyakinan yang dapat menjadi bagian atau inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam masyarakat bersangkutan dan menjadi pendorong, penggerak serta pengontrol untuk anggota-anggotanya untuk tetap berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya agar menjadi kepribadian dalam berbangsa dan bernegara.
 
Dengan ini kita sadar, betapa pentingnya membangkitkan kembali dan menerapkan moral-etika agama di ranah politik Indonesia dengan segala dinamika dan kompleksitas permasalahannya agar menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: