Fundamental keshalehan

secara harfiah kita semua telah paham bahwasanya keshalehan merupakan pribadi yang diinginkan oleh umat beragama. Dalam menjalankan keshalehan kita memerlukan pemahaman yang menyangkut keterkaitan antar konsep. Menurut Richard T. Schaefer (1989), nilai yang di dalam bahasa Inggris disebut “Values” adalah :“ collective conceptions of what considered good, desirable, and proper or – bad, undesirable and improper – in culture”. Untuk hubungan antara nilai dengan “praktek” (baca: prilaku) Richard T. Schaefer menyatakan bahwa : “values influence people’s behaviour and serve as criteria for evaluating the actions of others”. Apa yang dikemukakan oleh Schaefer tersebut didasarkan kepada asumsi bahwa “nilai” sudah “internalized”. Sebab pada kenyataannya “nilai” sebagai “considered good …………..”, bisa saja hanya berada dalam tataran pemikiran, kata-kata atau sesuatu yang dianggap normatif belaka, atau “nilai” tersebut kalaupun ada, keberadaannya dalam keadaan “dormant” atau tidur; dan tidak diketahui lagi oleh masyarakat.

Pada zaman sekarang banyak orang dalam sebuah kelompok(organisasi) atau sebagai individu yang secara “pengetahuan” mengenal baik-buruk, namun di dalam kehidupan kesehariannya, hanyalah sisi buruknya saja yang dipraktekan bahkan dengan sengaja terkadang menjadikan “nilai” yang ada mempunyai arti yang multitafsir. Semua orang tahu, bahwa secara “nilai”, korupsi itu dilarang oleh agama dan hukum negara, namun pada kenyataannya orang yang tahu “nilai” korupsi itu salah, tetap saja mempraktekkan korupsi. Dalam konteks ini sebenarnya bisa juga disebutkan bahwa “nilai” yang dipraktekkan untuk korupsi jauh lebih terinternalisasi dibanding dengan “nilai” yang “benar”. Karena “nilai” itu juga merupakan :…….. serve as criteria for evaluating the actions of others” , maka kalau terdapat “nilai-nilai” salah, tetapi secara mayoritas banyak pengikutnya, maka nilai-nilai yang salah itu bisa dianggap benar (di Indonesia korupsi konon sudah dianggap sebagai budaya).

Agar dalam sebuah kelompok(organisasi) atau sebagai individu menjadi lebih baik sebaiknya dalam keseharian mempunyai nilai-nilai moral tinggi dan mampu menjalankan.
1. keshalehan aqidah = Ini merupakan inti dan ruh ketegaran. Untuk memperoleh keshalihan aqidah, seorang muslim harus memiliki keyakinan dapat menjalankan tauhid Rububiyah (tauhid yang mengakui adanya allah), tauhid Uluhiyah (tauhid ibadah, tauhid Al Iradah dan Al Qasdu (keinginan dan tujuan)), Tauhid Asma dan Sifat Artinya, kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menetapkan untuk diri-Nya, serta meniadakan sifat-sifat cacat dan kurang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tiadakan dari diri-Nya, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menanyakan hakekatnya, dan menyamakan dengan makhluk-Nya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11). keshalehan aqidah menjadi momentum penting yang mengarahkan otentisitas perjalanan hidup manusia. Nuansa spiritual begitu kental mengiringi perjalanannya dan menjadikannya sebagai modal bagi manusia untuk menjalin kedekatan diri dengan Tuhannya. Sebagai wujud dari dimensi ruhaniah-spiritual, kewajiban melaksanakan salat sebagai bukti realisasi keimanan dan ketakwaan ke hadirat-Nya, guna menjadi landasan hidup agar berjalan lebih otentik. Otentisitas hidup ini perlu ditanamkan kuat-kuat kepada Tuhan, sehingga muncul kesadaran ketuhanan (God consciousness) untuk dijadikan pijakan dalam menyongsong perjalanan hidup ini. Kesadaran ketuhanan inilah yang menjadi pancaran tauhid yang menerangi arah perjalanan hidup manusia dan sekaligus menghilangkan hasrat ketergantungan kepada unsur-unsur lain. Untuk menjaga eksistensi spiritual diperlukan pembersihan batin manusia secara konstan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai keimanan yang diperoleh melalui pengalaman spiritual. Kesadaran inilah yang membentuk karakter kesalehan spiritual dalam diri manusia. Fenomena yang berkembang selama ini orang yang secara individual dianggap saleh, ternyata dalam lingkup sosial kemasyarakatan kesalehan tersebut tidak teraktualisasikan. Hal ini terkesan ada jarak yang memisahkan antara kepentingan yang sifatnya individual dan kepentingan sosial. Padahal agama mengajarkan perlunya keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah, individual dan sosial kemasyarakatan, maupun duniawi dan ukhrawi. Sudah seharusnya kesalehan tersebut menjadi etika personal-individual yang terobjektivikasikan ke dalam dimensi publik yang membentang luas. Manusia yang menangkap kompleksitas spirit dimensi ini, diharapkan mampu merefleksikan kesalehan spiritual yang sifatnya personal-individual ke dalam ruang lingkup kesalehan publik dan sosial. Inilah bentuk ujian yang sebenarnya dalam mengaktualisasikan dimensi kesalehan spiritual ke hadirat Tuhan. Jika kita selama ini secara individu sudah merasa saleh secara spiritual, ujian terpenting justru menerjemahkan kesalehan tersebut ke ruang publik. Jika berhasil, maka akan terwujud keharmonisan antara kehidupan manusia selaku individu maupun sebagai anggota masyarakat dan sekaligus memberi kontribusi positif dalam membentuk keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara.

2. keshalehan Ibadah = Dalam Islam, ibadah adalah penghubung antara seorang hamba dengan Allah, yang merupakan puncak ketundukan dan kepasrahan total terhadap kebesaran-Nya. Ibadah tidak terbatas dalam bentuk shalat, puasa, zakat dan haji, tapi meliputi seluruh amal dan kegiatan seseorang dalam hidupnya. Seperti disebutkan dalam firman Allah swt, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah RabbulAlamin. ” (QS. Al-An’am : 163). Untuk memperoleh keshalehan dalam ibadah seorang muslim harus menjadikan semua dimensi kehidupannya hanya berorientasi pada keridhaan Allah swt. Secara praktek hal itu dijelaskan oleh Rasulullah SAW, “Engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Selain itu ibadah harus dilakukan sepenuh hati dan khusyu’. Rasulullah SAW, menurut Aisyah ra, “bila datang waktu shalat dan kami sedang berbicara, seolah-olah ia tidak mengenal kami dan kami tidak mengenalnya.” Ibadah yang kering dari suasana khusyu’, dan tidak dibarengi dengan niat ikhlash yang kuat, bisa menjadi tidak bernilai di hadapan Allah. “Berapa banyak orang yang melakukan shalat, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya selain kelelahan dan kepenatan,” begitu sabda Rasulullah SAW. Keshalihan dalam beribadah juga bisa bermakna, dengan memperbanyak dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT, melalui ragam ibadah sunnah. Sebab melaksanakan ibadah sunnah seperti itu, dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, akan menjadi syarat kecintaan Allah pada hamba-Nya. Dan bila Allah sudah cinta pada hamba-Nya, “Maka Aku akan menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menghela. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan bila ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya. Bila ia meminta perlindungan-Ku, pasti Aku akan melindunginya….” (HR. Muslim).

3. keshalehan akhlak = Keshalihan dalam aspek ini sebenarnya merupakan buah dari keshalihan aqidah dan ibadah. Artinya, keshalihan dalam aqidah dan beribadah otomatis melahirkan keshalihan dalam akhlak dan prilaku. Akhlak yang baik adalah bukti keimanan. Tak ada arti iman tanpa akhlak yang baik. Banyak cara untuk memiliki keshalihan akhlak. Antara lain dengan memelihara diri dari berbagai bentuk syubuhat, atau perkara yang tidak jelas hukum halal dan haramnya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa kecerobohan dalam melakukan sesuatu yang syubuhat, dapat menggelincirkan pelakunya kepada dosa. “Barangsiapa yang memelihara diri dari syubuhat, berarti ia telah memelihara agama dan kehormatannya,” kata Rasulullah saw. Bentuk lainnya adalah menundukkan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan memandangnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Tundukkanlah pandangan kalian, dan peliharalah kemaluan kalian. Atau kalau tidak Allah akan memburukkan wajah kalian.” Selain itu, seorang muslim harus berusaha memelihara lidahnya dari berkata yang sia-sia, apalagi yang terlarang. Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah, hendaknya setiap orang memelihara lidahnya dari berkata apapun, kecuali perkataan yang jelas maslahatnya. Bahkan jika setelah ditimbang berkata dan diam itu sama saja manfaatnya, sebaiknya dipilih diam daripada berbicara.” Karena, menurut Imam Nawawi, “Banyak perkataan yang dibolehkan lalu berubah menjadi makruh dan haram.” Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa yang banyak bicaranya, akan banyak tergelincirnya. Dan barangsiapa yang banyak tergelincirnya, banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, niscaya nerakalah tempat yang layak untuknya.” (HR. Baihaqi). Termasuk shalih dalam akhlak adalah bersikap sabar dan pemaaf. Perjalanan hidup seseorang, apalagi seorang da’i, kerap dihiasi ujian kesulitan dan penderitaan. Tapi itulah sunnatullah dalam da’wah. Karenanya setiap muslim dianjurkan memiliki sikap sabar dan pemaaf dalam menyikapi berbagai persoalan. Tentang ketinggian nilai sabar dan lemah lembut di hadapan Allah, pernah disabdakan oleh Rasulullah saw, “Sesungguhnya derajat orang pemaaf itu sama dengan derajat orang yang berpuasa dan bangun malam.” Rasulullah juga bersabda, “Apakah kalian ingin kuberitakan dengan sesuatu amal yang akan menjadikan Allah mengangkat seseorang beberapa derajat? Maafkan orang yang berbuat bodoh kepadamu. Memaafkan orang yang mendzalimimu. Memberi orang yang tidak memberimu. Dan menyambung hubungan orang yang memutuskan hubungan denganmu,”

4. keshalihan keluarga = Tingkat keshalihan secara pribadi, harus tercermin pada keshalihan keluarga. Karena keluarga Islam, dibangun di atas amanah Allah yang akan dimintakan tanggung jawabnya di akhirat. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras yang tidak akan mengelak perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim : 6). Dan karena keluarga adalah miniatur masyarakat, maka keshalihan keluarga pasti berdampak pada keshalihan masyarakat. Keshalihan dalam keluarga sangat bergantung pada keshalihan individunya, terutama suami sebagai kepala rumah tangga. Untuk memperoleh keshalihan dalam berkeluarga, sejak awal seorang muslim harus menjadikan motivasinya berkeluarga adalah dalam kerangka taat kepada Allah swt, menjaga pandangan dan memelihara kehormatannya. Bila ini dilakukan, maka Allah SWT akan menjamin kebutuhannya. Seperti sabda Rasulullah saw, “Ada tiga golongan yang Allah berhak menolong mereka. Mujahid fi sabilillah, orang yang berhutang yang ingin membayar hutangnya, dan orang yang menikah untuk memelihara kehormatannya.” (HR. Turmudzi).

Selain hal-hal di atas, masih banyak kiat-kiat lain untuk memperoleh keshalihan. Untuk hal-hal yang sifatnya sangat teknis, bisa jadi setiap orang punya kebiasaan masing-masing. Sebagaimana setiap orang -bila ia mau jujur–pasti tahu kapan saat-saat keshalihannya sedang goncang dan dengan apa ia bisa disembuhkan. Semoga Allah Swt memudahkan kita untuk mencapai derajat keshalehan di atas.

menghemat pemakaian listrik pada komputer

jika pemakaian listrik membengkak sejak ada komputer, berikut beberapa langkah yang mungkin sangat menarik untuk dicoba.

1. gunakan stabilizer untuk mengurangi tegangan listrik komputer

2. pergunakan wallpaper dengan warna gelap

3. setting modus monitor dengan resolusi display dan brightness yang rendah

4. Mengatur ‘power setting’ agar monitor dapat menset power ‘off’ secara otomatisMatikan komputer (CPU) bila tidak digunakan dalam jangka waktu lama.

5. pergunakan komputer dengan catudaya input yang tidak terlalu tinggi

6. hindari pemakaian kipas atau penambahan peralatan lampu pada komputer.

7. ubah system booting standart dengan cara :

1. pada menu run, buka file sysedit ( click start –> run — ketik sysedit — enter)

2. pada menu sysedit ( system configuration editor) terdapat empat file configurasi.

3. pilih menu config?sys, dan hapus semua configurasi yang ada? perlu di ingat, windows tidak memerlukan settingngan configurasi di config?sys. config.sys biasanya digunakan pada dos (disk operating system) dan saya rasa sangat jarang yang menggunakan operating system ini.

4. pilih autoexec.bat dan hapus semua konfigurasi yang ada. biasanya didalam file ini   terdapat configurasi untuk menjalankan antivirus dalam mode dos. perlu di ingat, proses menjalankan antivirus ini hanya bersifat mengecek apakah ada virus atau tidak. ini sangat tidak efektif karena walau ada virus, komputer akan melanjutkan proses booting seperti biasa. jadi, proses ini hanya memperlambat proses booting dan menurut penulis itu hanya membuang waktu.

5. buka file win.ini. di salah satu konfigurasi yang ada di file ini terdapat options “run”.   jika konfigurasi “run” ini kosong, maka file ini sudah lumayan aman. namun jika konfigurasi “run” terdapat path dan nama file, maka pada saat proses booting windows akan otomatis menjalankan file tersebut.

6. buka file system.ini.lakukan hal yang sama dengan proses nomor 5.

7. setelah selesai dengan proses ini, maka silakan keluar dari menu sysedit dan jangan lupa untuk men-save seluruh file.

8. pada menu run, buka file msconfig.

9. di menu msconfig, pilih menu startup ( sangat tidak di sarankan membuka menu yang lain jika anda tidak mengerti maksud dan tujuannya).

10. pada menu start up, kenali apa yang anda install. hilangkan tanda centang jika anda tidak ingin configurasi itu dijalankan. configurasi yang perlu biasanya hanya antivirus. penulis biasanya menghilangkan semua centang kecuali antivirus untuk mempercepat proses booting. ini tidak berbahaya, jika ada beberapa aplikasi yang seharusnya jalan, namun tidak jalan setelah kita melakukan proses ini, silakan masuk ke menu msconfigdan centang kembali konfigurasi yang di perlukan.

11. setelah itu tutup menu msconfig dan restart komputer anda.

demikian sedikit tips yang mungkin menarik untuk di ujicoba. semoga bermanfaat. sekian dan terimakasih

INDONESIA

Indonesia..
Sungguh elok keindahan alammu
Indonesia..
Sungguh beragam budayamu
Indonesia..
Sungguh subur tanahmu
Indonesia..
Sungguh luas dan kaya keanekaragaman hayati lautmu
Indonesia..
Dimanakah engkau berdiri kini
Indonesia..
Masih mampukah engkau tegak dan memberi pengaruh
Indonesia..
Ingatkah engkau akan segala perjuanganmu dahulu
Indonesia..
Di sini rakyatmu terus berjuang demi kelangsungan hidupnya
Indonesia..
Segeralah engkau bangkit dan kembali jaya untuk selamanya
Indonesia..
kami rakyatmu akan terus menjungjung tinggi kehormatanmu
Indonesia oh indonesia

kemerdekaan dalam kepribadian indonesia

Kemerdekaan kata itulah yang sering kita dengar setiap memasuki bulan agustus karena pada bulan itulah bangsa ini mencapai kemerdekaannya melawan penjajahan fisik yang dilakukan oleh bangsa lain selama kurang lebih setengah abad lamanya akantetapi cobalah kita lupakan sejenak tentang apa yang telah terjadi di masa lalu sambil kita coba untuk menatap secara bersama-sama bagaimana kita sebagai warga negara yang baik untuk bergotong royong membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada pada bangsa ini terutama dalam hal merubah kepribadian bangsa ini dari pribadi bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.

Dalam perkembangan setelah kemerdekaan bangsa ini telah berkali-kali berganti pemimpin dan juga telah mencapai perkembangan yang sangat pesat di berbagai bidang akantetapi jika kita melihat lebih mendalam perkembangan yang ada saat ini sangatlah jauh pada apa yang dicita-citakan oleh para pejuang bangsa ini sebelum kemerdekaan terutama pada kehidupan politik dan perkembangan moral-etika agama.

Dalam kehidupan politik bangsa ini seakan-akan ibarat se-ekor macan yang kehilangan taringnya karena sekalipun kita masih mempunyai sebuah kekuatan di dunia politik internasional tapi kita masih kurang mampu bahkan cenderung hanya mengikuti saja kebijakan-kebijakan yang ada dan itu tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para pejuang kemerdekaan bangsa ini yang sangat menginginkan bangsa ini mempunyai ideologi yang bisa menjadi roh dalam perkembangan peradapan atau dalam arti lain dapat konsisten dan berani mengambil resiko dalam membuat sebuah keputusan yang berguna untuk masa depan bangsa ini sekalipun harus bertentangan dengan kebijakan negara-negara lain di dunia hal ini sesuai dengan yang tertuang pada landasan ideologi politik kita yang bebas-aktif serta yang tertuang pada pidato presiden RI yang pertama BERDIKARI (berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka.Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling menguntungkan. Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: “Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan).

Dalam perkembangan moral-etika agama, bangsa ini seperti kehilangan roh dalam setiap pergerakan kehidupan bernegara dimana seharusnya moral-etika selalu ditempatkan dalam setiap perilaku dan tindakan yang akan dilakukan seperti yang tergambar dalam pancasila dan UUD 45. Kita lihat saja saat ini telah berapa banyak sikap maupun tindakan dari diri kita sendiri yang telah menyalahi moral-etika dalam berbangsa dan bernegara, sebagai gambaran berapa banyak para wakil rakyat yang diberitakan telah terjerat kasus korupsi padahal jika kita tinjau dari hasil gaji bersih para wakil rakyat itu sebenarnya mereka masih cukup untuk menghidupi keluarga mereka bahkan jika mereka sanggup menghargai apa yang telah diberikan oleh pemilik alam semesta dan segala isinya mereka masih mampu memberikan sisa dari hasil gaji yang telah mereka peroleh kepada fakir-miskin yang semakin hari semakin bertambah di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil atau dilain pihak kita tinjau bagaimana sikap generasi muda yang seharusnya sebagai tonggak awal agar mampu menjadikan kehidupan negara ini lebih maju malah terjebak pada arus kekuasaan, harta dan pola-pola pemikiran yang lebih menekankan pada bagaimana harus menyelamatkan diri sendiri dari berbagai tekanan kehidupan globalisasi dengan cara yang mengorbankan moral-etika agama.

Dalam konteks sebagai generasi muda demi mewujudkan cita-cita yang ingin dicapai oleh para pejuang sebelum kemerdekaan terutama dalam kehidupan politik dan perkembangan moral-etika bangsa agar menjadi lebih baik maka perlu dilakukan usaha pengembalian kehidupan politik dalam moral-etika dalam tujuannya sebagai usaha memperjuangkan kesejahteraan umum, memajukan masyarakat dan melaksanakan keadilan, sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai perlu penegasan kembali fungsi kritis moral-etika agama dalam mengevaluasi posisi manusia dalam sistem politik, mengaplikasikan moralitas politik sekaligus mendudukkan peran moral-etika agama secara fungsional dalam melaksanakan fungsi kritis mengendalikan kehidupan politik menuju kehidupan politik yang bermoral dan manusiawi (Said Tuheley (ed.), 2003). Jika upaya tersebut berhasil dilakukan maka operasionalisasi agama sebagai sistem keyakinan yang dapat menjadi bagian atau inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam masyarakat bersangkutan dan menjadi pendorong, penggerak serta pengontrol untuk anggota-anggotanya untuk tetap berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya agar menjadi kepribadian dalam berbangsa dan bernegara.
 
Dengan ini kita sadar, betapa pentingnya membangkitkan kembali dan menerapkan moral-etika agama di ranah politik Indonesia dengan segala dinamika dan kompleksitas permasalahannya agar menjadi bangsa yang mempunyai kepribadian yang kuat baik dimata nasional maupun internasional.

jika

Jika JUJUR

Jika jujur itu indah
Jangan biarkan ia dilumuri dengan manisnya kata-kata
Jika jujur itu membawa ketentraman
Jangan biarkan ia menjadi kegelisahan
Jika jujur itu membuat kita berhasil
Jangan biarkan ia menjadi penghancur kita
Jika jujur itu sebenderang rembulan
Jangan biarkan ia menjadi gelap
Jika jujur itu sebuah kenikmatan
hiasi ia dengan kerendahan hati dan pikiran positif

Etika & Kepentingan

Dalam perkembangan era globalisasi yang katanya semakin maju ini sering kali kita mendengar berita-berita yang membuat orang terasa sakit hati bahkan marah ketika mendengarnya, bagaimana mungkin tidak sakit hati ataupun marah jika hampir di setiap waktu maupun detik banyak sekali pemberitaan tentang berbagai macam berita konflik politik yang terjadi di kehidupan berbangsa dan bernegara di indonesia. Agar kita dapat lebih bijak dalam menanggapi berita yang terjadi ada baiknya kita harus memahaminya apa konflik dan bagaimana solusinya. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepentingan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja.

Di era teknologi komunikasi ini, komunikasi individual semakin mengglobal. Kemajuan ekonomi material negara -negara maju, membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk mengha silkan kelimpahan ekonomi material. Jika kebetulan mereka memperoleh kepercayaan menduduki jabatan dalam pemerintahan dan hukum, maka atas kekuasaannya itu mereka secara berjamaah berbuat tindakan yang melanggar etika dan hukum yang berlaku.

Dalam Webster’s New Collegiate Dictionary dijelaskan bahwa moral berakar dari b ahasa Latin “mos” atau “mores”, berarti costum, … “relating to principles of right and wrong in behavior ”. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan “moralitas” ( Ensiklopedi Umum, 1977) yaitu “tata tertib tingkah laku yang dianggap baik atau luhur dalam suatu lingkungan atau masyarakat”. Jadi, moralitas kurang lebih berarti dorongan atau semangat batin untuk melakukan perbuatan baik. Sedangkan etika, berakar dari bahasa Yunani, “ ethos”, juga berarti kebiasaan atau watak. Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “ajaran moral memuat pandangan-pandangan nilai-nilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan bahwa ”etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa ”etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu, bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa ”etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan – tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”. Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Misalnya, “korupsi” adalah perilaku tidak bermoral, tetapi “tidak membayar pajak” (karena alasan tertentu) adalah perilaku tidak etis. Tetapi, keduanya tetap mempersoalkan masalah yang sama, yaitu perilaku. Kemudian, dari pendekatan filsafat dan moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan. Di dalam satu keterikatan moral, mereka berpolitik menurut prinsip etika normatif dalam mencapai tujuan bersama(membangun bangsa yang beradap). Jadi tidak perlu terjadi benturan konflik.

Jika kita tinjau berdasarkan kerangka pikiran menurut pengertian yang ada maka sudah sepantasnya baik setiap pribadi maupun instansi lebih menegakkan prinsip-prinsip etika(adap) dalam rangka membangun suasana kehidupan politik agar tercapai bangsa yang beradap atau bangsa yang humanis. Berikut cara agar tercapainya keinginan kita untuk membangun bangsa yang beradap.

Menjaga kehormatan yang dimaksudkan di sini adalah menjaga kehormatan agama, bangsa-negara, lingkungan, keluarga, dan pribadi. Menjaga kehormatan penting sekali dalam rangka menciptakan kehidupan berpolitik yang penuh dengan etika karena dengan kita dapat menjaga kehormatan kita tidak akan dapat bertindak suatu perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain bahkan sampai melanggar hukum ataupun aturan-aturan yang telah ditetapkan. Contoh kasus: ketika suatu kelompok ingin menyampaikan aspirasinya kepada instansi sudah pasti ingin didengarkan oleh instansi tersebut jadi jika keduanya sama-sama menjaga kehormatan sudah barang tentu orang-orang dalam instansi tersebut akan menyambut kedatangan kelompok tersebut dengan hangat dan di lain pihak kelompok tersebut tidaklah dibenarkan jika bertindak anarkis dalam menyampaikan pendapatnya sehingga di sini akan timbul sesuatu yang kita sebut etika normatif(komunikasi).

Memiliki cita-cita yang luhur. Cita-cita yang luhur wajib dimiliki dalam usaha untuk membangun bangsa yang beradap yaitu kepada yang maha kuasa. Sehingga seluruh semangat dan hasrat kebangsaan akan diliputi nilai-nilai keluhuran moral yang hasilnya akan tercermin dengan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur

Dengan berbakti yang baik akan terbentuk bangsa yang beradap. Berbakti yang baik dapat di artikan tidak mengklaim prestasi, karena segala daya dan kekuatan yang ada pada diri kita bersumber pada kuasa tuhan yang maha esa(ingatlah bahwa bangsa ini tidak akan pernah merdeka dan menjadi seperti saat ini tanpa pertolongan dari yang maha kuasa), selain itu berbakti yang baik juga dapat diartikan terbangunnya kebesaran jiwa.

Melaksanakan prinsip-prinsip utama melalui tidak mudah tergoda oleh aspek-aspek penunjang sedang prinsip utamanya terabaikan, tidak meremehkan hal-hal principal, dan tidak memilih cara-cara yang akan menghasilkan sesuatu yang sesaat nampak bagus akantetapi untuk kemajuan masa depan bangsa ini akan berakibat hancurnya peradaban bangsa.

Mensyukuri nikmat yang dimaksud memandang yang maha memberi nikmat, bukan wujud nikmatnya, senantiasa memandang anugerahNya setiap berhasil dalam mencapai kemajuan, rasa syukur ditumbuhkan dari kejernihan iman dan tauhid setiap aspek bangsa ini.

ISRA’ MI’RAJ

Kata isra’ mi’raj sangatlah tidak asing bagi telinga kita dan mungkin hal yang pertama teringat jika kita mendengarkan kata tersebut adalah untuk pertama kalinya nabi muhammad SAW mulai menerima perintah dari Allah SWT tanpa melalui perantara malaikat jibril untuk menjalankan sholat yang telah disempurnakan oleh Allah SWT dari shalat-shalat sebelumnya yaitu shalat lima waktu akantetapi perintah menjalankan sholat sesungguhnya bukan saat nabi muhammad SAW saja karena sholat itu sendiri telah dilakukan oleh nabi-nabi sebelum nabi muhammad SAW hal ini dapat kita lihat dalam kisah nabi isa A.S. ketika nabi isa A.S. lahir maryam membawanya kembali ke kampung halamannya. Orang-orang tertentu merasa heran dan bertanya-tanya melihat maryam menggendong bayi mungil. Mereka bartanya :” maryam, anakmukah? Bilamana engkau menikah?” seseorang tetangga terperanjat. ” Ya. Siapa suamimu?” tanya yang lain. Hai, maryam!Anak siapa ini?” teriak tetangga yang lain lagi. Ketika maryam tak juga menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, seseorang menghardik, ” maryam-maryam…kami kira engkau ini gadis suci yang kerjanya hanya beribadah saja. Ternyata engkau telah berbuat nista!” Padahal orang tua dan keluargamu itu keturunan orang baik-baik,” yang lain menghina. Maryam amat sedih mendengar semua komentar dan cacian itu tetapi malaikat jibril telah berpesan untuk tidak berbicara apa-apa pada siapapun. Maryam lalu menunjuk-nunjuk bayinya yang ia letakkan di dalam buaian. Mendadak nabi isa yang masih merah itu berbicara atas kuasa Allah SWT. ”Aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab, Injil, dan dia menjadikanku seorang nabi. Dia memberkahi aku di mana saja aku berada. Dia juga memerintahkan aku untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan berbakti kepada ibuku…”.

Proses Isra’ mi’raj yang berarti perjalanan dari Baitul maqdis lalu dibawa oleh malaikat jibril ke langit ke tujuh dan sampai sidratul muntaha seperti yang terdapat pada firman Allah:

”Maha Suci Dia yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Tempat Sujud Yang Suci (Masjid al-Haram) ke Tempat Sujud Yang Lebih Jauh (Masjid al-Aqsha) yang Kami berkati sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Al-Isra’(17):1

dalam rangka memperingati isra’ mi’raj saya ingin menghimbau generasi muda islam agar dapat melaksanakan sholat lima waktu karena selain sholat lima waktu merupakan rukun islam ternyata sholat yang selama ini kita lakukan lima kali sehari, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi kehidupan kita. Mulai dari berwudlu ( bersuci ), gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa hebatnya baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang sedikit dari kita yang memahaminya. Berikut rangkaian dan manfaat kesehatan dari rukun Islam yang kedua ini.

Manfaat Wudlu Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.

Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Kalu kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman.

Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banya kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!!

Keutamaan Berkumur Berkumur-kumur dalam bersuci berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah dari infeksi gigi dan mulut. Istinsyaq berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga kuman. Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah. Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita.

Manfaat Kesehatan Sholat Berdiri lurus adalah pelurusan tulang belakang, dan menjadi awal dari sebuah latihan pernapasan, pencernaan dan tulang. Takbir merupakan latihan awal pernapasan. Paru-paru adalah alat pernapasan, Paru kita terlindung dalam rongga dada yang tersusun dari tulang iga yang melengkung dan tulang belakang yang mencembung. Susunan ini didukung oleh dua jenis otot yaitu yang menjauhkan lengan dari dada (abductor) dan mendekatkannya (adductor). Takbir berarti kegiatan mengangkat lengan dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya paru-paru. Dan mengangkat tangan berarti meregangnya otot-otot bahu hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar. Dengan ruku’, memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher oleh karena sejajarnya letak bahu dengan leher. Aliran akan semakin lancar bila ruku’ dilakukan dengan benar yaitu meletakkan perut dan dada lebih tinggi daripada leher. Ruku’ juga mengempiskan pernapasan. Pelurusan tulang belakang pada saat ruku’ berarti mencegah terjadinya pengapuran. Selain itu, ruku’ adalah latihan kemih (buang air kecil) untuk mencegah keluhan prostat. Pelurusan tulang belakang akan mengempiskan ginjal. Sedangkan penekanan kandung kemih oleh tulang belakang dan tulang kemaluan akan melancarkan kemih. Getah bening (limfe) fungsi utamanya adalah menyaring dan menumpas kuman penyakit yang berkeliaran di dalam darah.

Sujud Mencegah Wasir Sujud mengalirkan getah bening dari tungkai perut dan dada ke leher karena lebih tinggi. Dan meletakkan tangan sejajar dengan bahu ataupun telinga, memompa getah bening ketiak ke leher. Selain itu, sujud melancarkan peredaran darah hingga dapat mencegah wasir. Sujud dengan cepat tidak bermanfaat. Ia tidak mengalirkan getah bening dan tidak melatih tulang belakang dan otot. Tak heran kalau ada di sebagian sahabat Rasul menceritakan bahwa Rasulullah sering lama dalam bersujud.

Duduk di antara dua sujud dapat mengaktifkan kelenjar keringat karena bertemunya lipatan paha dan betis sehingga dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita. Gerakan salam yang merupakan penutup sholat, dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah bening di leher ke jantung.

Sholat Lebih Canggih dari Yoga “Apakah pendapatmu sekiranya terdapat sebuah sungai di hadapan pintu rumah salah seorang diantara kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. Apakah masih terdapat kotoran pada badannya?”. Para sahabatmenjawab : “Sudah pasti tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya”. Lalu beliau bersabda : “Begitulah perumpamaansholat lima waktu. Allah menghapus segala keselahan mereka”. (H.R Abu Hurairah r.a). Jika manfaat gerakan sholat kita betul, maka sangat luar biasa manfaatnya dan lebih canggih daripada yoga. Sangat disayangkan tidak ada universitas yang berani atau sengaja mengembangkan teknik gerakan sholat ini secara ilmiah. Belum lagi manajemen yang terkandung dalam bacaan sholat. Seperti doa iftitah yang berarti mission statement (dalam manajemen strategi). Sedangkan makna bacaan Alfatihah yang kita baca berulang sampai 17 kali adalah objective statement. Tujuan hidup mana yang lebih canggih dibandingkan tujuah hidup di jalan yang lurus, yaitu jalan yang penuh kebaikan seperti diperoleh para orang-orang shaleh seperti nabi dan rasul?

akhir kata tidak ada salahnya jika kita memperingati isra’ mi’raj ini untuk lebih meningkatkan kualitas serta kuantitas kita dalam beribadah kepada Allah SWT terutama dalam sholat lima waktu bukan dengan cara yang berlebih-lebihan seperti mengadakan acara seremony keagamaan yang hanya bersifat sementara dan akan berdampak pada masa depan umat islam yang nantinya bisa menjadi sesuatu yang membudaya sehingga akan meninggalkan ke sakralan dari proses isra’ mi’raj itu sendiri.